Loading...
Sang Maestro menikah dengan tante, Soelami Soejoed, tahun 1967. Sejak saat itu, sampai maut menjemput tante di Juli 2014, nyaris tidak pernah terekspose hal-hal buruk soal hubungan keduanya.
Setidaknya dalam pergaulan kami sejak 1998, saya tidak pernah melihat keduanya saling berbantahan.
Entah rasa apa yang membuat tante rela meninggalkan kenyamanannya sebagai perempuan dengan karir cemerlang (terakhir di Bank Indonesia cabang Amerika Serikat).
Lalu hidup ‘nggak jelas juntrungan’ bersama sang Maestro. Nyatanya, kehidupan yang jauh dari sejahtera, dilalui keduanya dalam kurun waktu yang cukup lama.
Lalu hidup ‘nggak jelas juntrungan’ bersama sang Maestro. Nyatanya, kehidupan yang jauh dari sejahtera, dilalui keduanya dalam kurun waktu yang cukup lama.
Usai menikah, keduanya hidup dengan sumber penghasilan sebagai pengemudi taksi gelap. Banting setir menjadi tukang batu dengan bayaran Rp. 100,- sehari setelah mobil rusak parah akibat tabrakan. Arah kehidupan yang lebih baik, mulai terlihat setelah keduanya mendapat oleh-oleh beberapa butir telur ayam ras petelur yang kemudian ditetaskan.
Sebagai alumni Fakultas Peternakan, saya tahu persis. Perlu waktu untuk membesarkan DOC (Day Old Chick, anak ayam usia sehari) sampai mampu menghasilkan telur. Proses penetasan saja membutuhkan waktu 21 hari. Dan dalam kurun waktu itu, tentu bukan penghidupan yang menyenangkan. Pun setelah ayam-ayam mulai bertelur.
Telur-telur itu harus dijual dengan cara door to door.
Bukan itu saja kesulitannya. Jenis telur yang dijual, berbeda dengan telur ayam kampung yang umum dijual saat itu. Bentuknya besar-besar. Harganya pun pasti beda mengingat biaya pemeliharaannya lebih tinggi. Apalagi pemeliharaan dalam jumlah yang sedikit, menimbulkan inefisiensi. Singkatnya, justru itulah periode tersulit.
Bersama memelihara ayam. Bersama menjual telur ayam. Sampai akhirnya, ayam Kemang (KemChicks) membesar. Keduanya tetap sebagai pasangan hidup yang harmonis, sampai maut memisahkan.
Dugaan saya (setidaknya dari yang saya jumpai dalam keseharian), ada dua hal penyebab keharmonisan itu. Pertama, keduanya memulai kehidupan yang tidak menyenangkan, bersama. Susah bersama saja mau, apalagi senang.
Yang kedua, ini sempat terkonfirmasi. Tante sangat mempercayai oom. No exception. Apapun yang oom pilih, tante hanya diam. Dalam banyak hal, justru mendukung, dan membantu. Dan diamnya tante, berbuah manis.
Al-Faatihah untuk keduanya …
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/54605ecbe9424720a958d4e26beb0f9e?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...

EmoticonEmoticon