Showing posts with label BISNIS ONLINE. Show all posts
Showing posts with label BISNIS ONLINE. Show all posts

Digaji YouTube Rp 45 M, Ria Ricis Pilih Tinggalkan Saldo di ATM Rp 1 M

Ria Ricis memamerkan isi saldo ATM pribadinya yang mencapai Rp 1 miliar, belum lama ini. Meski memiliki saldo ATM miliaran rupiah, Ria Ricis merasa belum apa-apa seperti beberapa artis Tanah Air lainnya.

Seperti diketahui, Ria Ricis mengikuti jejak artis sebelumnya mulai dari Barbie Kumalasari, Raffi Ahmad hingga Nikita Mirzani buka-bukaan isi saldo ATM. Saat itu, dia memberi kuis pada timnya untuk menebak jumlah saldo ATM pribadinya.
ria ricis
Ria Ricis pamer saldo ATM (YouTube/Ricis Official)
Namun, jika Barbie Kumalasari memamerkan saldo ATM miliknya Rp 3 miliar, Nikita Mirzani Rp 1,3 miliar, Raffi Ahmad hanya Rp 174 juta karena dijatah Nagita Slavina, Ria Ricis mengaku hanya meninggalkan saldo sedikit yaitu Rp 1 miliar di ATM-nya.
Padahal, bukan tak mungkin untuk YouTuber, bintang film dan iklan, serta presenter acara televisi ini untuk menyimpan uang banyak di ATM-nya. 

Pamer saldo ATM Rp 1 M

ria ricis
Pamer saldo ATM Rp 1 M (YouTube/Ricis Official)
Melalui chanel YouTube-nya, Ria ditantang timnya memamerkan isi saldo di dalam kartu ATM-nya. Hal itu untuk memenuhi permintaan penggemarnya yang disampaikan melalui Direct Message (DM).
“Banyak kepo, banyak yang penasaran dan DM. Mereka pengin tahu isi saldo ATM lo,” kata Ares, salah satu personel tim Ricis.
Awalnya, adik artis yang kini jadi pendakwah Oki Setiana Dewi itu menolak tantangan timnya memperlihatkan isi saldo di kartu ATM-nya. Pasalnya, dia enggan dianggap sombong karena memamerkan jumlah uang yang ada di tabungannya.
Ih aku enggak enak, nanti aku dianggap, ‘Ih sombong banget’. Padahal mah enggak ada duitnya juga,” imbuhnya.
Meski awalnya menolak, dara bertubuh mungil ini akhirnya menerima tantangan timnya. Dia juga memberikan tantangan dengan hadiah uang tunai, bagi yang bisa menebak isi saldonya.
“Nanti kalau ada yang bisa menebak dan mendekati akan dikasih uang tunai,” kata Ricis.
Ria Ricis mengaku punya empat kartu ATM dengan bank yang berbeda. Ternyata dalam satu ATM yang dimilikinya, saldo yang tertera sebesar Rp 1 miliar
Wow, satu ATM isinya Rp 1 miliar,” kata salah satu tim Ricis yang menghitung nominal saldo Ria Ricis.

Memilih berinvestasi

ria ricis
Memilih berinvestasi (Instagram/@riaricis1795)
Bukan tak beralasan, perempuan kelahiran 1 Juli 1995 itu memilih menabung investasi di bandingkan meninggalkan saldo banyak di ATM-nya.
“Aku nggak terlalu banyak nyimpan di ATM karena kan ada di bank, tabungan hari tua insya Allah aman, jadi nggak taruh banyak-banyak uang di ATM,” jelas Ricis.
Diketahui merupakan salah satu YouTuber ternama dengan pengasilan fantastis, Ricis memiliki banyak sumber uang. Namun, di antara kesekian sumber uangnya, profesi sebagai YouTuber tampaknya yang lebih banyak menghasilkan pundi-pundi uang untuknya.   

Penghasilan terbesar sebagai YouTuber capai Rp 45 M

ria ricis
Digaji YouTube capai Rp 45 M (Instagram/@riaricis1795)
Di laman Instagramnya, @riaricis1795, sebagian besar konten Ricis memang berupa video. Di sana dia sering mengunggah video-video lucu yang dilakukannya sendiri. Karena itu, Ricis pun merambah ke YouTube usai sebelumnya dikenal sebagai selebgram.
Membangun akun YouTube channel dengan namanya, Ricis Official. Kini, jumlah subscriber Ricis di YouTube mencapai 17,5 juta. 
Salah satu rahasia kenapa penerima penghargaan Gold Platinum YouTube itu bisa begitu booming karena dia berani melakukan sesuatu yang kontroversial. Kemudian, dia juga melihat tren masyarakat terkini. 
Misalnya, saat squishy naik daun, Ricis menggunakan benda tersebut buat jadi kontennya. Namun, karena terlalu berani, Ricis hingga saat ini memiliki haters yang jumlahnya tidak sedikit.
Meski begitu, Ricis tetap berkarya merilis berbagai konten video di YouTube-nya. Karena itu, berdasarkan Socialblade.com, pemilik nama Ria Yunita itu meraih  US$ 16,6 ribu atau setara Rp 233,4 juta hingga US$ 265,9 ribu atau setara Rp 3,7 miliar per bulan.
Sementara itu, dalam setahun Ricis meraih penghasilan dari YouTube sebanyak US$ 199,4 ribu atau setara Rp 2,8 miliar sampai US$ 3,2 juta atau setara Rp 45 miliar. Angka yang sangat fantastis, bukan?
Itulah Ria Ricis yang memilih untuk tidak mengisi saldo ATM-nya banyak-banyak, padahal penghasilannya dari YouTube sudah di angka miliaran rupiah. 
Namun, Ricis menyadari tidak selamanya akan berada di dunia entertainment. Sehingga dia mementingkan bekal untuk hari tua nanti dengan banyak berinvestasi. Salut!

Sumber : https://www.moneysmart.id/ria-ricis-pamer-saldo-atm/

Pria Ini Bikin Aplikasi untuk Memajukan Pertanian Indonesia

Memang banyak masalah serta hiruk pikuk di Indonesia ini, salah satunya mengenai hal pangan, mengingat Indonesia sempat dijuluki sebagai negara lumbung padi, namun kini Indonesia merupakan negara yang begitu ketergantungan dengan impor beras. 
Namun, dengan adanya kehadiran CEO satu ini membuat dedikasi untuk Indonesia dalam hal panganpun ikut terbantu.

Berbagai inovasi pun dilakukan, salah satunya adalah dengan mempermudah permodalan pertanian dengan konteks kekinian yang menggunakan wadah (platform) digital seperti yang dilakukan oleh Tanijoy.
Tanijoy merupakan sebuah perusahaan rintisan digital yang berangkat dari keprihatinan terhadap kesejahteraan petani yang kurang diperhatikan. 
Masalah utamanya adalah, sebagian besar petani kerap tidak mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari akibat tidak mampu untuk bertani karena kekurangan modal. "Pilihan mereka hanyalah meminjam ke tetangga atau ke tengkulak dengan syarat yang memberatkan seperti harus menjual hasilnya dengan harga yang ditentukan tengkulak," kata CEO Tanijoy, Muhammad Nanda Putra dilansir dari GNFI, Rabu (18/04/2018).
Berdasarkan masalah itu, Nanda Tanijoy berusaha untuk memberi solusi berupa akses permodalan yang dibantu oleh investor yang berasal dari masyarakat menengah ke atas dan tertarik berinvestasi pada industri pertanian. "Kami juga membantu petani mencarikan akses pasar yang lebih baik," jelasnya.
Saat ditanya tentang alasan fundamental mengapa memilih agrikultur sebagai objek, padahal saat ini industri agrikultur terus terhimpit dengan semakin menyempitnya lahan pertanian di Indonesia. 
Tanijoy pun memiliki alasan yang cukup sederhana. Menurut Nanda, "Selama manusia masih membutuhkan pangan untuk hidup, menurut kami bidang Agrikultur tidak akan pernah mati. Memang tantangannya saat ini terjadi alih fungsi lahan tapi di sisi lain masih ada 14 juta ha lahan potensial yang belum terberdayakan, dan membangkitkan lahan tidur tersebut juga salah satu misi Tanijoy."
Selain masalah penyempitan lahan, Tanijoy rupanya juga telah memperhatikan maslaah tentang regenerasi petani di Indonesia yang juga tengah meredup. 
Cara yang ditempuh Tanijoy untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan melibatkan anak-anak muda. "Dengan memberdayakan anak-anak muda untuk terjun ke dunia pertanian sebagai Field Manager yang nantinya akan menjadi agripreneur muda serta membuktikan bahwa bertani itu keren dan menguntungkan," jelas Nanda. 
Menurut Nanda, kedua masalah di atas (penyempitan lahan dan regenerasi petani), sepertinya memang menjadi perhatian utama yang ingin diselesaikan oleh Tanijoy melalui akses permodalan. 
Namun menurut mereka, akses permodalan hanyalah tahap awal untuk memperkuat hubungan kepada komunitas petani. "Selanjutnya akan berkembang ke pelatihan, pemberdayaan, pemasaran hingga digitalisasi pertanian. Dengan banyaknya permasalahan yang terjadi di pertanian Indonesia ini, kolaborasi sangat diperlukan. Baik dengan pemerintah, pelaku startup dan korporat," ungkapnya.
Ia pun berharap Indonesia pada tahun 2045, Indonesia akan menjadi negara yang maju dalam teknologi. Pertanian di masa itu, menurut Nanda akan mampu mensejahterakan para petani sehingga akan menarik perhatian petani-petani muda untuk memulai usaha di bidang pertanian. 
Sementara dari segi teknologi, Tanijoy menjelaskan bahwa pihaknya telah mengembangkan sebuah sistem digital yang akan membantu para petani mengelola lahan. "Farming Management System (FMS), melalui ini kami juga memberikan pelatihan agar petani dapat membuat keputusan berdasarkan data lapangan yang didapat dan juga memberikan laporan kepada penanam modal," kata Nanda. 
Melalui sistem tersebut, Tanijoy akan mampu bekerja secara digital layaknya perusahaan rintisan digital lainnya di Indonesia. Sistem inilah yang kemudian diunggulkan oleh Tanijoy dalam setiap kesempatan. Salah satunya adalah saat diikutkan dalan kompetisi Ytech yang berlansung sejak awal tahun 2018 ini. 
Dalam kompetisi tersebut, akan ada startup terbaik yang akan terpilih untuk bisa mendapatkan pembinaan dan akses investor di kiblat ekonomi digital dunia, Silicon Valley, California di Amerika Serikat. 
Bila Tanijoy mampu menjadi yang terbaik dalam Ytech, Nanda berharap dirinya bersama tim akan bisa belajar sebanyak-banyaknya dari para ahli startup, bisnis dan teknologi agrikultur dunia."Apabila kami mendapatkan investor, tentunya akan kami pergunakan untuk mengembangkan produk dan mengakuisi lebih banyak petani dan pemodal proyek," harapnya. 
Tanijoy sendiri adalah sebuah wadah digital yang menghimpun pemodal dari berbagai pihak untuk pertanian. 
Cara kerjanya adalah dengan pengumpulan modal yang nantinya diberikan pada projek tani yang dikerjakan oleh para mitra petani. 
Dari aktifitas projek pertanian ini nantinya akan mendapatkan keuntungan yang bakal dibagikan lagi ke pada para pemodal. 

Sumber : https://www.smartbisnis.co.id/content/read/belajar-bisnis/inspirasi-bisnis/pria-ini-bikin-aplikasi-untuk-memajukan-pertanian-indonesia

Bisnis Jutaan Dolar Sang Mantan Gamer

Sebagai mantan pencandu game, Ashadi Ang paham betul sulitnya membeli vocer game. Betapa tidak, para pemain harus memiliki berbagai vocer yang mereka beli untuk berbagai permainan yang berbeda. 
Selain itu, distribusi vocer yang dulu sangat terbatas makin menyulitkan gamer untuk membeli ataupun menambah saldonya. 

Ini yang mendorong lulusan ilmu komputer dari Universitas Coventry Inggris itu membesut UniPin, sistem pembayaran yang bisa digunakan untuk berbagai jenis game, enam tahun silam.


Kini, di bawah PT 24 Jam Online, Ashadi sukses membesarkan UniPin menjadipayment gateway untuk game terbesar di Indonesia. Dengan keunggulannya, UniPin digunakan di 5 ribu game lebih yang diterbitkan oleh 250 penerbit game.
Di kantornya, Ruko Prisma Kedoya, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Ashadi menuturkan kepada SWA bahwa ide membesut UniPin datang ketika dia bekerja di perusahaan teknologi informasi yang khusus membuat peranti lunak untuk lembaga koperasi di Indonesia. Belakangan, dia terpikir membuat sebuah vocer yang bisa menyatukan seluruh pembayaran di berbagai game online. Alhasil, meluncur UniPin, akronim dari Universal Pin yang bermakna “satu pin untuk semua game. “Slogan kami adalah ‘Satu untuk Semua, Semua untuk Satu’,” Ashadi menjelaskan slogan yang identik dengan semboyan tiga ksatria pelindung raja Prancis di abad pertengahan itu.
UniPin dikembangkan Ashadi selama bertahun-tahun. Riset saja butuh waktu dua tahun, belum termasuk pengembangan sistem dan tim. Bisnis yang meluncur enam tahun silam ini pun telah merasakan langsung perubahan perilaku pemain game. Dari zaman warung internet sampai kini para pemaingame menggunakan PC atau laptop, bahkan ponsel pintar masing-masing.
Produk UniPin terdiri dari dua jenis vocer. Pertama, UniPin Express yang tersedia dalam enam denominasi, dari Rp 10 ribu sampai Rp 500 ribu. “Ini jenisdirect top up, tidak perlu registrasi. User bisa membeli electronic pin UniPin diconvenient store atau mobile agent, lalu redeem game credits,” kata Ashadi.
Kedua, UniPin Wallet untuk menampung pembelian dalam jumlah besar sehingga memerlukan registrasi. Setelah mendaftar, pengguna mendapat UniPin Account atau UniPass. Keunggulannya, UniPin Walet dapat diisikan ke berbagai macam game dengan berbagai denominasi. “Kebanyakan user yang top updengan nilai besar selalu menggunakan Wallet karena mendapat reward setiap mengisi akunnya,” kata Ashadi seraya menyebutkan, 60% pelanggan UniPin menggunakan Wallet.
Salah satu penunjang popularitas UniPin adalah strategi distribusinya, yakni memilih memperluas penyebaran vocernya melalui gerai minimarket seperti Indomaret. Dengan demikian, pemain game tidak terbatas membeli di warung internet saja. Belakangan, distribusinya bertambah dengan menggandeng tiga penyedia jasa telekomunikasi terbesar di Indonesia: Telkomsel, Indosat, dan XL. Jadi, pengguna tinggal memotong pulsanya untuk mendapatkan vocer UniPin.”
Selanjutnya, perbankan pun digandeng sehingga pengguna bisa membeli langsung melalui mobile bankinginternet banking, serta transfer via mesin ATM. “Yang membuat kami terfavorit dan terbesar adalah dari sisi user experience ini. Kami kan bidangnya jasa, jadi harus benar benar melihat dari sisi servis. Sejak pertama kali berdiri, kami sudah menganut filosofi ‘customer is our soul’,” kata Ashadi menegaskan.
Prinsip tersebut dianutnya berkat pengalaman buruk ketika menjadi gamer. Dulu, Ashadi kerap dipusingkan dengan masalah waktu respons yang lama dari para penyedia jasa vocer game. Pasalnya, mereka tidak memiliki sistem yang baik untuk menanggapi jutaan konsumennya. Pengalaman ini memacunya untuk melayani pelanggan dengan baik saat membesut UniPin. Terlebih saat ini, ketika jumlah pelanggannya telah mencapai tiga juta, layanan pelanggan menjadi semakin krusial.
Bahkan, Ashadi mematrikan komitmen respons layanan pelanggan UniPin paling lambat lima menit dalam menanggapi keluhan pengguna. “Sampai sekarang, saya juga masih suka mengecek langsung, saya ikut mengontrol. Kalau saya terjun langsung begini, pastinya tim CS juga harus all out. Bahkan, sampai hari ini alamat e-mail saya masih pakai CS1,” paparnya.
Adapun model kerjasama yang diusung, UniPin hanya menangani aspek pembayaran, sedangkan penerbit game fokus mengembangkan game. Dengan jumlah pengguna mencapai jutaan, tim UniPin bisa mendorong pengguna terus menambah saldonya.
Melalui big data analysis, UniPin mampu menganalisis perilaku dan tren pengguna game. Data berharga ini lalu disetor ke para penerbit game. Salah satu kegunaan data ini, para penerbit dapat memprediksi waktu promosi gameyang paling tepat.
Berbagai keunggulan UniPin (seperti distribusi produk yang luas dan terjangkau, layanan pelanggan yang mumpuni serta big data analysis) juga sukses memenangi hati para penerbit game besar dunia. Yang terbaru bergabung adalah Moonton, penerbit game Mobile Legend yang memiliki 30 juta pengguna di Indonesia.
Alhasil, UniPin terus melaju kencang di industrinya. Ashadi membeberkan, UniPin memproses tak kurang dari 6 transaksi per detik dan mencetak 2 ribu-6 ribu pelanggan baru saban hari. Omset UniPin mencapai US$ 1 juta lebih per bulan. “Dari pendapatan ini, kami juga ada feedback ke komunitas untuk pembinaan. Dulu kami juga sisihkan Rp 50 setiap transaksi untuk Yayasan Kehati. Kalau sekarang untuk mahasiswa kurang mampu,” ungkap Ashadi.
UniPin pun masih terus berupaya menarik pelanggan baru dengan menggaetgame-game anyar. Strategi ini harus ditempuh lantaran setiap game memiliki daur hidup terbatas.
Hingga kini, total terdapat 5 ribu game dari 250 penerbit yang bekerjasama dengan UniPin. Karena pencapaian itu, UniPin sukses mencetak rekor versi Rekor Bisnis (ReBi) sebagai payment gateway untuk game terbesar dan terfavorit. “Kami juga tiga tahun berturut-turut mendapat award dari majalahKotak Game sebagai payment gateway terfavorit,” ujar Ashadi.
Setelah sukses di Indonesia, Ashadi menjajaki peluang berekspansi ke Filipina, selanjutnya Vietnam dan Kamboja. “Penjajakannya tidak sulit karena di kawasan Asia Tenggara mereka sudah tidak asing dengan UniPin. Mereka juga paham bahwa kami sanggup mengelola pelanggan dan transaksi yang jumlahnya besar,” kata Ashadi tandas.
Reportase: Yosa Maulana
Sumber : https://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/bisnis-jutaan-dolar-sang-mantan-gamer
Kegigihan Kakak-Beradik Membesut Pasar Kuliner Online

Kegigihan Kakak-Beradik Membesut Pasar Kuliner Online

Alena Wu & Anthony GunawanDua tahun terakhir, penyanyi wanita Alena Wu punya kesibukan baru. Bersama adiknya, Anthony Gunawan, ia membesut Wakuliner, marketplace online yang menawarkan kuliner dari berbagai penjuru Nusantara. 

Alena yang menjabat sebagai Chief Marketing Officer Wakuliner pun gencar mempromosikan bisnis barunya. “Saya ingin menjadi penyanyi sekaligus seorang pengusaha. 

Itu sebabnya, saya ikut berinvestasi dan mengelola Wakuliner yang didirikan adik saya,” kata kelahiran Malang, 1981, yang tenar sebagai spesialis pelantun lagu mandarin itu.
Startup yang diinisiasi sang adik itu kini mulai menunjukkan hasilnya.Melakukan soft launching pada Juli 2017, sampai akhir tahun lalu Wakuliner berhasil menarik ribuan merchant dan belasan ribu transaksi yang memesan aneka kuliner dari berbagai lokasi di Nusantara.
Anthony, yang diwawancara bersama Alena, memaparkan, dirinya mulai merintis Wakuliner –akronim “wadah kuliner”– sepulang berkarier di Amerika Serikat. 

Di Indonesia, mantan Analis Teknis Senior TJX, Co Founder AV Solution, dan Asisten Manajer Proyek Swapsimple di AS itu kerap berpindah-pindah kota bersama istrinya.
Selama hidup “nomaden” tersebut, penyandang gelar MBA dari DePaul University, Chicago, AS, itu merasakan kesulitan ketika hendak memesan makanan. Pasalnya, beragam aplikasi harus diinstal untuk memesan kuliner khas di berbagai kota. 

Namun, kesulitan itu pula yang justru memberinya secercah ide. Pria kelahiran Malang, 1984, itu terpikir membesut bisnis pesan-antar makanan dengan cakupan pengantaran yang luas, se-Indonesia.
Pada Januari 2016 Wakuliner pun hadir di bawah naungan PT Bigit Republik Aplikasi. Aplikasi Wakuliner meluncur setahun kemudian, Januari 2017. Dan, Agustus tahun lalu, Wakuliner menggelar soft launching di hadapan media massa. 

Anthony mengungkapkan, keluarganya dan beberapa investor lain menginvestasikan sejumlah dana untuk mendirikan Wakuliner. “Investasinya sekitar Rp 2 miliar. Dananya dari saya, Alena, keluarga, dan beberapa investor lainnya,” ungkapnya.
Wakuliner yang bisa diunduh dari Google Play ataupun App Store pada dasarnya menawarkan tiga layanan. Pertama, Waku-Antar, berupa layanan pesan-antar kuliner. Kedua, Waku-Wiku, yang memberikan rekomendasi kuliner terkenal di berbagai kota di Indonesia. Ketiga, Waku Katering, yang menawarkan layanan katering skala kecil hingga besar.
Ketika dicek pada aplikasinya yang diunduh dari Google Play, saat ini tersedia tiga layanan. Pertama, Waku Komplit yang menyediakan kudapan dan oleh-oleh dari berbagai daerah. 

Kedua, Waku-Saji, yang menawarkan layanan pesan antar-makanan siap saji, dan Waku-Wiku. “Waku Katering untuk saat ini masih dalam tahap persiapan peluncuran,” Anthony menjelaskan.
Berbagai jurus promosi telah digelar Wakuliner. Selain soft launching, kampanye intensif di berbagai media sosial dan aplikasi pesan instan pun digencarkan seperti di Facebook, Instagram,WhatsApp, Line, dan BBM.
Sejumlah promosi khusus juga ditebarkan, seperti vocer Rp 15.000 bagi seribu pemesan makanan perdana. Sempat digelar pula promosi hadiah ponsel Samsung Galaxy S8 bagi pemesan terbanyak. 

Ada pula undian paket seminar gratis senilai jutaan rupiah dari Tung Desem Waringin, motivator sekaligus praktisi bisnis yang menjabat sebagai Presiden Komisaris Wakuliner.
Keunggulan lain yang diusung Wakuliner di antaranya layanan pelanggan dan dukungan teknis yang hadir selama setahun penuh tanpa hari libur. 

Dengan berbagai jurus tersebut, Anthony mengaku hingga akhir tahun lalu jumlahmerchant yang tergabung telah mencapai 4 ribu yang tersebar di 60 kota di Indonesia. Sementara total transaksi telah mencapai 18 ribu pesanan, dari Juli 2017 hingga akhir tahun lalu. 

“Rata-rata transaksi bernilai Rp 120 ribu per pesanan dan kuliner yang paling banyak dipesan adalah bakmi, kue brownies, keripik keju, dan sambal,” katanya.
Meski kini sudah mengecap sukses, Anthony masih ingat betul jatuh-bangun dalam merintis Wakuliner. Ada masa ketika Wakuliner kebobolan anggaran pemasaran. 

Musababnya, Wakuliner menerapkan sistem komisi kepada setiap pemasar yang berhasil mendapatkan merchant. Hasilnya memang luar biasa: dalam waktu singkat, jumlah merchant melesat pesat.
Namun belakangan, manajemen Wakuliner mendapat pelajaran pahit. Rupanya, sejumlah pemasar Wakuliner secara membabi buta mendorong calon merchantuntuk bergabung demi mengejar komisi. 

Padahal, para penyedia produk tidak paham cara berbisnis secara online. Alhasil, setelah merchant bergabung, produk kuliner mereka tidak bisa dipesan karena si empunya tidak memahami cara berjualan via Wakuliner. “Itu sebuah pelajaran yang sangat mahal,” ungkap Anthony blakblakan.
Belajar dari kasus tersebut, pola rekrutmen merchant diubah. Wakuliner lebih selektif dan bersikap menanti partisipasi dari merchant untuk bergabung. Dengan demikian, bisa dipastikan merchant yang bergabung hanya yang memahami cara berbisnis online.
Sang kakak, Alena, pun turut berjuang habis-habisan membesarkan Wakuliner, hingga wanita ini tumbang. Sebab, Alena merangkap pekerjaan, sebagai CMO Wakuliner sekaligus penyanyi. 

“Karena kelelahan, sehari-hari urusan Wakuliner dan Sabtu-Minggu menerima order nyanyi, akhirnya saya sempat dirawat di rumah sakit, hehehe,” tutur Alena seraya tertawa kecil.
Kakak-beradik ini masih berambisi membesarkan Wakuliner. Sejumlah layanan akan ditambah dalam waktu dekat. Salah satunya, penawaran kemitraan. “Jadi, tak hanya end user yang disasar, tapi segmen bisnisnya juga kami garap. 

Wakuliner akan menjadi marketplace kuliner yang lengkap. Dari jasa pesan-antar kuliner, sampai penawaran bisnis franchise kuliner tersedia,” Anthony menegaskan.
Eddy Dwinanto Iskandar
Sumber : https://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/kegigihan-kakak-beradik-membesut-pasar-kuliner-online
Bisnis Triliunan di Tangan Wanita 26 Tahun

Bisnis Triliunan di Tangan Wanita 26 Tahun

Karier Fanny Verona di industri digital dan e-commerce sangatlah kinclong. Meski usianya baru menginjak 26 tahun, dia sudah dipercaya mengelola bisnis dengan turnover yang wah. Tepatnya, dipercaya sebagai Direktur Pengelola DAM Corp (PT Digital Artha Media), perusahaan digital enabler yang sahamnya dimiliki Mandiri Capital, Kresna Securities, Jas Capital, dan Kompas Gramedia. DAM Corp bukan perusahaan sembarangan karena memiliki beberapa perusahaan teknologi rintisan: Mandiri eCash, Indiepay, Indiprint, dan Wagon.
Di DAM Corp, Fanny setidaknya membawahkan 100-an karyawan. “Sekitar 70% -nya orang teknologi,” ungkapnya. Tugas utama perusahaan ini: membangun platform fintech bagi Bank Mandiri dan pihak lain yang membutuhkan layanan fintech. Jelas ini bukan bisnis main-main karena Mandiri eCash saja tahun ini ditargetkan punya 10 juta pengguna, dan tahun 2019 mencapai 30 juta pengguna. Sebagai catatan: nilai transaksi Mandiri eCash saat ini diestimasi sudah luar biasa karena 1,5 tahun lalu ketika penggunanya baru 1,7 juta orang melibatkan transaksi Rp 1,9 triliun.
Di dunia fintech dan e-commerce, karier Fanny memang moncer. Sebelum di DAM Corp, dia sudah dipercaya sebagai Direktur Pemasaran DIMO, fintech milik Grup Sinarmas. Bahwa saat ini di usia 26 tahun dia sudah di posisi diektur pengelola di perusahaan teknologi ngetop, kiranya tak usah kaget. Begitu lulus SMA, dia sudah langsung kerja, memulai di AVG Anti Virus. “Saya lulus SMA mengikuti program akselerasi dan di AVG kerja sambil kuliah,” kata lulusan magna cumlaude dengan IPK 3,85 dari Universitas Trisakti ini.
Meski hanya dua tahun di AVG Anti Virus, selama bekerja Fanny sangat aktif di komunitas digital. “Dunia digital masih sedikit orangnya saat itu, paling hanya 50-an yang aktif di komunitas. Waktu itu Twitter juga baru mulai ramai di sini,” ujarnya. Dari komunitas inilah akhirnya dia mengenal pendiri Disdus, perusahaan rintisan di bidang penjualan barang diskon. Dia pun ditawari bergabung. Namun, tak lama, setelah itu dia dibajak Lazada. Di perusahaan e-commerce Rocket Internet itu dia membesarkan divisi bisnis elektronik yang sampai sekarang masih menjadi andalan Lazada.Fanny Verona
Di DAM Corp sekarang, Fanny bertanggung jawab atas semua operasional bisnis perusahaan, tak hanya pegang satu-dua divisi. Tahun ini, dia mengungkap, pihaknya fokus membangun ekosistem sehingga e-payment lain juga bisa menggunakan ekosistem Mandiri eCash. Dalam hal ini, tugasnya bukan sekadar mengejar besaran transaksi Mandiri e-Cash. “Kalau angka saja tujuannya, bisa dikejar lewat promo. Namun setelah lewat promo, kartu tidak lagi digunakan," katanya.
Sebagai fintech enabler, DAM Corp akan berperan aktif dalam implementasi solusi fintech di berbagai sektor. Tahun ini, misalnya, akan menggarap aplikasi pinjaman (mikro) setelah melihat fakta bahwa baru separuh masyarakat Indonesia yang terkover bank. Juga, sedang menyiapkan pegembangan e-wallet untuk beberapa mal di Indonesia.
Fanny pun tengah sibuk mengedukasi dunia usaha Indonesia bahwa cashless society sudah di depan mata. “Kita ini seperti di China ketika mereka sedang belajar e-commerce beberapa tahun lalu. Sekarang di sana orang membeli makanan di pinggir jalan saja sudah pakai Alipay dan WeChat pay. Jangan ketinggalan momentum,” demikian pesannya.(*)
Reportase: Herning Banirestu

Sumber : https://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/bisnis-triliunan-di-tangan-wanita-26-tahun

Kategori

Kategori