Bob and Me : Tasbih

Loading...
Tahun 2011, ketika saya menemui sang Maestro untuk mohon pamit karena ingin menunaikan ibadah haji, ada permintaan beliau yang sampai hari ini saya ingat.

Hal itu adalah ketika saya bertanya, oleh-oleh apa yang beliau ingin saya bawa dari tanah suci? Beliau minta dibawakan tasbih. Seakan tak ingin kejadian tentang sapi betina di surat Al-Baqarah berulang, saya tidak bertanya berkepanjangan soal warna, bentuk tasbih, bahan pembuatnya, atau jumlah butirannya (11, 33 atau 99).
Di Mekkah, di saat-saat usai shalat, saya dan istri mencari oleh-oleh itu. Beberapa kali mencoba untuk mendapatkan tasbih yang pas untuk sang Maestro. Sampai akhirnya kami pun memilih seuntai tasbih dengan 33 butiran, terbuat dari kayu wangi.
Setelah kembali ke tanah air, kami mengemasnya dalam sebuah kotak kayu, lalu menyerahkannya di kediaman beliau. Yang tak terlupakan adalah ketika beliau mencium tasbih itu sambil berucap terima kasih. ‘I like it,’ kata beliau singkat. Senyumnya tulus, sambil memainkan butiran tasbih dengan tangan kanannya.
Kelak, saya seringkali menemukan tasbih beserta kotaknya itu, di atas meja makan tempat biasa kami berdiskusi, sambil menikmati sayur lodeh buatan tante. Tak selalu ada di situ, tapi tasbih dan kotak kayu itu, sepertinya mendapat tempat khusus di hati beliau. Semoga ...
sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/86d00e50759e4618aedc28b68b1bfe58?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon