Loading...
Siang itu, panas menyengat di luar gedung tempat kami bertemu. Dua cangkir espresso yang hanya boleh keluar jika sang Maestro berada di gedung itu, sudah terhidang.
Sedang enaknya kami diskusi, datang seorang pejabat teras di sebuah instansi (saya tahu dari nama yang tersemat di dada, yang kemudian saya search di google.com). Sepertinya ybs sudah mengenal oom cukup dekat.
Usai basa-basi dan perkenalkan diri, bapak pejabat tadi menyerahkan satu map tertutup berwarna coklat. Inti pembicaraan bukan penyerahan gratifikasi, tapi titipan lamaran dari keponakan sang pejabat, agar diterima bekerja di sini.
Usai menyampaikan hajatnya, bapak pejabat itu pamit. Saya tahu persis, inilah saat bagi saya untuk interogasi sikap sang Maestro.
‘Nal, memekerjakan orang dengan rekomendasi model begini, sama dengan memekerjakan saudara atau famili. Sepanjang hidup kita akan dipenjara oleh kepentingan orang ini.
Aku terima orang bekerja atas dasar kompetensi, bukan atas dasar perkenalan. Bahkan kalau aku harus memilih, lebih baik aku pilih orang yang bukan teman, famili atau saudara. Itu dari sisi aku, sebagai penerima kerja.
Di sisi seberang (orang yang memberi rekomendasi), aku tidak akan pernah berikan satu rekomendasi pun kepada seseorang agar ybs bisa dapar pekerjaan. Kenapa?
Rekomendasi itu racun. Apalagi buat orang-orang yang maju tanpa kompetensi yang cukup. Suatu saat ia akan tersiksa, duduk di satu jabatan yang tidak ia kuasai. Akan tiba suatu masa, dia diledek anak buah karena tidak mampu melakukan apa yang seharusnya bisa ia lakukan. Dan itu akan jadi senjata makan tuan buat si pemberi rekomendasi ...
Aku tidak izinkan diriku menerima jasa dari siapapun termasuk para pejabat yang memegang posisi tinggi, karena hal itu bisa membuatku tersandera dan harus membalas jasa mereka.
Aku tidak pernah mengemis-ngemis proyek dan atau pekerjaan pada mereka. Kalau pun aku dekat dengan semua presiden di negeri ini, aku dan perusahaanku tidak hidup dari kebijakan langsung mereka.
Paham?
He he. Saya mengamini sikap oom yang ini ...
Sang Maestro memanggil salah satu karyawan. Setelah datang, map coklat itu diserahkan oom kepadanya. ‘Masukkan mesin penghancur,’ perintah oom, lugas.
Sumber foto : https://www.facebook.com/photo.php?fbid=1942898620273&set=pb.1476691083.-2207520000.1509104856.&type=3&theater
Sumber artikel : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/5d12bab20bcb4eb49b0d7e4af0766823?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...

EmoticonEmoticon