Loading...
Aku menghindari rekrut karyawan baru untuk posisi tinggi. Hampir semua karyawan di sini, adalah orang-orang lama yang terus ada dalam tim, dan dibentuk dalam kultur budaya perusahaan sejak dari nol.
Ada beberapa yang resign, tapi penggantinya bukan karyawan baru, tetapi karyawan lama yang dipromosi. Tentu saja berdasarkan kompetensi dan senioritas mereka.
(Sekali waktu ku tanya pak Poniran, pengemudi pribadi oom. ‘Sudah berapa lama bekerja di sini?’
‘Baru dua puluh enam tahun,’ jawabnya)
Ada perusahaan yang suka sekali potong kompas. Butuh karyawan level menengah atau atas, cabut dari luar.
Memang ada kelebihannya : dia sudah pintar dan berpengalaman. Track recordnya bisa ditelusuri. Dan untuk itu, gaji dan fasilitasnya di atas karyawan lama.
Tapi harus diingat. Budaya perusahaan tempatnya bekerja dahulu, berbeda dengan perusahaan kita. Sayangnya, track record yang bisa ditelusuri, hanya sebatas CV saja.
Perilaku, keputusan-keputusan yang diambilnya untuk kepentingan perusahaan, nyaris blank. Dan yang lebih penting, perhatikan psikologis karyawan kita.
Hargailah orang-orang yang loyal untuk perusahaan. OMereka sudah bertahan dan mencetak prestasi cukup lama dalam tim. Jelas rekam jejak, integritas dan performancenya.
Sumber artikel : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/33de979373574fe883a3e64d8f28f07e?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...

EmoticonEmoticon