Bob and Me : Raja Tanpa Singgasana

Loading...
Saya mengenal sang Maestro, sejak 1998. Saat itu beliau sudah tidak lagi ikut cawe-cawe mengurus gerai swalayannya. 
Beliau lebih asyik berbagi kesana-kemari, memenuhi undangan berbagai lembaga dan instansi. Kadang melayani permintaan wawancara dari wartawan, atau sesekali mengisi acara televisi. 

Sekali waktu, beliau intens sekali menekuni dunia akting dengan membintangi beberapa sinetron. Tongkat estafet kepemimpinan di gerai itu, secara resmi sudah didelegasikan kepada para profesional.
Kalau sedang ada di Jakarta, hampir setiap hari saya bisa menemuinya di gerainya. Cuma mengambil kursi di cafetaria. 
Tidak ada ruang khusus buat beliau, seperti yang sering saya lihat di berbagai lembaga, yang memberikan ruangan khusus buat para pejabat tingginya, walau nyaris tidak pernah digunakan.
Berdasarkan cerita yang saya dengar dari beberapa karyawan, sejak masih jadi pemimpin perusahaan, oom memang bukan tipe organisatoris yang kaku. 
Cenderung mengabaikan prosedural. Bahkan, sekali lagi dari cerita para karyawan, oom memang tidak pernah punya ruang kerja, atau meja kerja pribadi. 
Tugas-tugas administratif, semisal menanda-tangani cek atau Bilyet Giro, atau dokumen penawaran, dilakukan dimana saja, tergantung keberadaan beliau.
Jadi, santai sekali mengikuti beliau. Sepanjang saya mengenal beliau, belum pernah sekalipun saya melihat kartu namanya. 
Siapapun yang meminta nomor ponsel, pasti diberi. Mau bertemu, nggak usah buat janji. Datang saja ke Kemang. Pasti diterima.
Tapi siapapun tahu. Di gerai itu, beliau lah pemimpin tanpa mahkota. Raja tanpa singgasana. Tanpa embel-embel jabatan, tapi kepemimpinannya dirasakan sampai ke level terbawah.
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/0eb96db0618246e6a342a300afe18ef7?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...


EmoticonEmoticon