Loading...
Salah satu hal yang ditunggu-tunggu sang Maestro ketika saya kembali dari tanah suci adalah penampilan saya.
Saya biasa ketemuan dengan beliau, cukup dengan T-Shirt dan jeans plus sepatu kets (awalnya saya suka pakai sandal kemana-mana, tapi suatu kali oom mengemukakan ketidak-sukaannya pada orang yang cuma pakai sandal.
Supaya tidak membuat beliau gusar, setiap kali saya menemui, selalu saya pakai sepatu. Pernah suatu kali, terpaksa saya harus membeli sepatu baru karena saya tidak membawa sepatu di mobil. Sejak saaat itu, di mobil selalu ada sepatu).
Beliau ingin melihat, adakah perubahan dalam hal itu. Walau tak terucap saat saya kontak beliau untuk bertemu di kedai beliau, saat bertemu beliau langsung berucap : Good.
Saat jumpa pertama itu, saya mengenakan hem batik, celana jeans plus sepatu. Kepala plontos karena semua rambut saya cukur habis setelah ibadah sa’i.
‘Gue kira setelah pulang dari tanah suci, lu bakal pakai pakaian ala Arab, Nyet. Pakai gamis plus kopiah putih. Apalagi pakai sorban. Ternyata tidak.’
Ha ha. Soal itu, memang sudah saya niatkan. Bahkan sejak saya masih kecil, bapak saya suka sekali membelikan pakaian model gamis untuk saya.
Tapi tidak pernah sekalipun saya pakai. Dan alhamdulillah beliau tidak pernah marah, dan berhenti membelikan baju ala Timur Tengah itu.
Saya lebih suka T-Shirt, atau batik. Tapi beda dengan oom, saya hampir tidak pernah mengenakan celana buntung. Itu saja.
‘Semoga setelah pulang dari tanah suci, perilakumu berubah menjadi semakin baik.
Tidak penting ganti atribut atau pakaian, atau KTP diimbuhi tambahan gelar haji karena perbuatan adalah pakaianmu yang sesungguhnya.’
‘Aamiiiiiiin. Thanks oom.’
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/27dbbedac9f0452f89856d9d09e45469?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...

EmoticonEmoticon