Loading...
Seorang kawan, memosting sebuah foto yang menunjukkan kelapangan hati seorang petinggi perusahaan, yang mengangkat anak-anak muda sebagai direktur.
Di sisi lain ia mengeluhkan kondisi di perusahaan tempatnya bekerja, di mana orang-orang yang sudah selayaknya pensiun, masih keras sekali menggenggam kekuasaan.
Masih kuat mengatur berbagai keputusan strategis, walau sudah tidak update situasi kekinian. Termasuk juga, mengakomodasi orang-orang terdekatnya untuk duduk di beberapa posisi strategis, yang jelas-jelas melanggar aturan perusahaan.
Dalam kondisi seperti ini, saya jadi ingat sang Maestro. Di usia 50an, beliau sudah tidak lagi menjadi pemimpin formal di perusahaannya. Beliau melarang anak-anaknya ikut cawe-cawe dalam bisnisnya. Begini petuahnya :
Aku tidak berkehendak mewariskan perusahaan ini kepada anak dan cucu karena semua operator saat ini adalah para profesional.
Yang aku wariskan adalah sejarah membesarkan perusahaan sejak kecil dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada mereka yang kompeten melanjutkan kebesaran perusahaan ...
Sebuah dialog di saat-saat sepi, di pojokan warung bakmi, bersama sang Maestro
Sumber : https://c.uctalks.ucweb.com/detail/100b152a083c40e19866679bdbda5313?uc_param_str=dnvebichfrmintcpwidsudsvnwpflameefut&stat_entry=personal&comment_stat=1
loading...
Loading...

EmoticonEmoticon